• Senin, 23 Mei 2022

Project Best Learning Kembangkan Karakter Siswa Bandung dengan Kolaborasi

- Senin, 17 Januari 2022 | 23:36 WIB
Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, didampingi Plt Walikota saat hadir di tengah para kepala sekolah di SMPN 2 Kota Bandung, Senin (17/1/2022). /Foto : Dok Humas Kota Bandung.
Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, didampingi Plt Walikota saat hadir di tengah para kepala sekolah di SMPN 2 Kota Bandung, Senin (17/1/2022). /Foto : Dok Humas Kota Bandung.

BANDUNG, FORMAS.CO.ID - Para siswa sekarang bisa bernapas lega, terutama bagi mereka yang sekolahnya sudah menerapkan kurikulum prototipe. Para siswa tak perlu lagi berkecil hati untuk memilih fakultas idamannya tanpa harus tersekat dengan jurusan di SMA.

Belakangan ini masyarakat ramai membicangkan tentang kurikulum prototipe. Salah satu gagasan dari kurikulum prototipe ini adalah penghapusan minat jurusan yang dinilai menjadi sekat para siswa untuk memilih jurusan dan karirnya. Namun, masih banyak selentingan yang berseliweran tentang kurikulum baru ini.

Baca Juga: Plt Walikota Ikut Saksikan,Presiden Berikan BLT ke Pedagang Pasar Sederhana

Dalam kunjungan evaluasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen di SMPN 2 Kota Bandung pada Senin, 17 Januari 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim beserta jajarannya hadir di tengah para kepala sekolah penggerak dari berbagai jenjang.

Kepala Sekolah SMAN 23 Bandung, Santy Kurnia Dewi mengajukan pertanyaan mengenai kaitan antara proses kurikulum prototipe ini dengan pemilihan jurusan di perguran tinggi.

"Bagaimana nanti para siswa memilih peminatan jurusan melalui jalur SNMPTN atau SBMPTN dengan Kurikulum Prototipe ini?" tanya Santy.

Baca Juga: Adanya Gotong Royong, Kasus Covid-19 dari 56 Ribu Turun 100 Kasus per Hari

Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek Indonesia, Anindito Aditomo mengatakan, jika perubahan kurikulum prototipe di SMA ini memang paling menantang dalam proses implementasinya paling dibandingkan pada jenjang PAUD-SMP.

Namun, Anindito menuturkan, dengan adanya kurikulum prototipe ini, para siswa bisa lebih leluasa memilih jurusan yang mereka inginkan di perguruan tinggi tanpa perlu khawatit dengan penjurusan semasa SMA.

"Adik-adik yang sekolahnya menjadi sekolah penggerak atau yang menerapkan kurikulum prototipe itu tidak dirugikan. Tidak ada lagi syarat jurusan untuk mendaftar tes. Jadi yang tadinya kalau mau masuk teknik itu harus dari IPA, tidak boleh IPS atau Bahasa, itu akan dihilangkan," papar Anindito.

Halaman:

Editor: Yayat Tahyan Supiat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X